Berikut Penjelasan Menurut Fatwa MUI Tentang Trading Saham

89 views

www.sarumpun.com – Belakangan ini banyak publik figur tanah air yang merekomendasikan saham perusahaan tertentu dengan memamerkan keuntungan yang menggiurkan.

Investasi saham memang banyak dilirik karena menambah pundi-pundi kekayaan dalam jumlah besar meskipun risikonya juga tidak kecil.

Yang dimaksud dengan investasi adalah kepemilikan melalui atau akuisisi lembar saham usaha perseorangan atau instasi yang dikomersialkan ke pasar saham.

Keuntungan bergantung pada fluktuasi nilai saham dari badan usaha yang dimiliki. Adapun wujud saham adalah lembar surat berharga yang menjadi tanda dari pertanyaan modal pada perusahaan.

Indonesia sendiri telah memiliki undang-undang yang mengatur saham. Namun bagaimana sebenarnya hukum saham pandangan Islam?

Hukum Saham Yang Halal

Terdapat perdebatan mengenai pendapatan hukum saham dalam Islam. Mengutip pada Ensiklopedia hukum Islam, dalam literatur fiqih, saham diambil dari istilah mushamah yang berasal dari kata saham yang berarti saling memberikan saham atau bagian.

Melansir dari jurnal Islamic Equity Market Karya Rahmani Timorita Yulianti, dalam akad ini tujuan pembeli saham adalah untuk menerima pengambilan sesuai dengan presentase modalnya apabila mengalami keuntungan.

Oleh sebab itu, musahamah diklasifikasikan oleh ahli piqih modern sebagai salah satu bentuk syirkah (perserikatan dagang).

Saham merupakan bentuk instrumen bisnis yang diperoleh dalam pandangan hukum Islam selama memnuhi syarat. Salah satunya yaitu saham yang diperdagangkan tidak berasal dari perusahaan yang bergerak dibidang usaha haram.

Hukum Jual Beli Saham Merupakan Haram Mutlak

Meski demikian, terdapat pula kelompok yang berargumen bahwa jula beli saham adalah haram secara mutlak, meskipun yang mengeluarkan saham merupakan perusahaan yang bergerak dibidang halal. Salah satu tokoh yang mengaturkan pendapat ini adalah Taqiyuddin an-Nabhani.

Alasannya adalah karena bentuk badan usaha perseroan terbatas atau PT tidak Islami. Salah satu yang dibahas adalah mengenai masalah ijab qobul dimana PT tidak memiliki ijab qobul seperti pada masalah syirkah.

Transaksi di Pasar Modal yang Diperolehkan MUI

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa Nomor 40/DSN-MUI/X/2003 tentang pasar Modal dan Pedoman Umum Penerapan Prinsip Syariah di Bidang Pasar Modal.

Dalam fatwa tersebut, tertulis bahwa transaksi pasar modal yang diperoleh oleh syariah haruslah menghindari hal-hal berikut ini:

  1. Perdagangan atau transaksi dengan penawaran dan/atau permintaan palsu
  2. Perdagangan atau transaksi yang tidak seperti dengan penyerahan barang dan/atau jasa.
  3. Perdagangan atas barang yang belum dimiliki.
  4. Pembelian atau penjualan atas efek yang menggunakan atau memanfaatkan informasi orang dalam dari emiten atau perusahaan publik.
  5. Transaksi marjin efek syariah yang mengandung unsur bunga (riba).
  6. Perdagangan atau transaksi dengan tujuan penimbunan (ihtiar).
  7. Melakukan perdagangan atau transaksi yang mengandung unsur suap (risywah).
  8. Transaksi lain yang mengandung spekulasi (gharar), penipuan (tadis) termasuk menyambungkan kecacatan (ghisysy), dan upaya untuk mempengaruhi pihak yang mengandung kebohongan (taghrir).

Baca Juga:

Sumber : kumparan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *